Selasa, 09 Februari 2010

Interaksi Obat

Apa Interaksi Obat Itu?

Takaran obat resep harus cukup tinggi untuk menyerang penyakit yang bersangkutan, tetapi cukup rendah agar terhindar munculnya efek samping yang berat. Obat lain, baik non-resep atau narkoba, jamu, atau bahkan makanan kadang kala mengakibatkan perubahan besar pada jumlah suatu obat dalam aliran darah kita. Hal ini diketahui sebagai ‘interaksi obat’. Interaksi obat adalah masalah yang penting karena tingkat obat yang terlalu tinggi dalam aliran darah dapat mengakibatkan efek samping yang berat. Sebaliknya tingkat obat yang terlalu rendah dapat berarti obat tersebut tidak berhasil.

Semua orang yang memakai obat antiretroviral (ARV) harus sangat waspada terhadap interaksi obat. Pastikan dokter mengetahui semua obat, suplemen dan jamu yang kita pakai.

Bagaimana Tubuh Kita Mengelola Obat?

Tubuh kita mengenal obat sebagai ‘zat asing.’ Jadi obat diuraikan oleh tubuh, biasanya sebagai air seni atau kotoran (tinja). Banyak obat dikeluarkan tanpa perubahan oleh ginjal dalam air seni. Obat lain harus diuraikan oleh hati kita. Enzim di hati mengubah molekul obat, yang kemudian dikeluarkan dalam air seni atau tinja.

Waktu kita meminum pil, obat jalan dari perut ke usus dan kemudian masuk hati sebelum mengalir ke bagian tubuh yang lain. Jika obat mudah diuraikan oleh hati, hanya sedikit obat sampai ke tubuh.

Bagaimana Obat Saling Berinteraksi?

Interaksi obat yang paling umum melibatkan hati. Beberapa obat dapat memperlambat atau mempercepat proses enzim hati. Ini dapat mengakibatkan perubahan besar pada tingkat obat lain dalam aliran darah, jika obat tersebut diuraikan oleh enzim yang sama.

Beberapa obat memperlambat proses ginjal. Ini meningkatkan tingkat bahan kimia yang biasanya dikeluarkan oleh ginjal.

Mengapa Ada Masalah dengan Makanan?

Pil apa pun yang kita minum melalui perut kita, lalu diserap dan masuk ke aliran darah. Kebanyakan obat diserap lebih cepat jika perutnya kosong. Penyerapan lebih cepat adalah baik untuk beberapa obat, tetapi juga dapat mengakibatkan efek samping yang lebih berat. Beberapa obat harus dipakai dengan makanan agar diuraikan lebih lambat atau untuk mengurangi efek samping. Beberapa obat lain melarutkan dalam lemak, sehingga diserap lebih cepat. Oleh karena ini, ada obat yang harus dipakai dengan makanan berlemak agar cukup diserap. Namun hal ini juga dapat mengakibatkan efek samping yang lebih berat, misalnya untuk efavirenz.

Asam perut menguraikan beberapa obat, termasuk ddI. Tablet ddI asli termasuk dapar atau ‘buffer’ – bahan antiasam yang melindungi obat tersebut dari asam perut. Namun dapar tersebut mengganggu penyerapan indinavir, jadi ddI tidak boleh dipakai sekaligus dengan indinavir. Versi ddI baru (EC) lebih mudah dipakai.

Obat Apa yang Mengakibatkan Interaksi Terbanyak?

Protease inhibitor (PI) dan NNRTI diuraikan oleh hati dan mengakibatkan banyak interaksi.

Beberapa jenis obat lain yang kemungkinan akan menimbulkan interaksi termasuk:
Obat antijamur dengan nama yang diakhiri dengan ‘azol’ (mis. flukonazol)
Beberapa antibiotik dengan nama yang diakhiri dengan ‘misin’ (mis. klindamisin)
Obat antiasam simetidin
Beberapa obat yang dipakai untuk mencegah konvulsi, termasuk fenitoin dan karbamazipin

CATATAN: Ini bukan daftar lengkap. Obat lain juga dapat mengakibatkan interaksi.Ada beberapa obat yang tidak boleh dipakai secara bersamaan (kontraindikasi), karena dapat mengakibatkan hasil yang gawat. Untuk informasi lebih rinci mengenai interaksi antara ARV dan obat lain, lihat Lembaran Informasi (LI) 910 dan LI 911.

Apakah Ada Obat Lain yang Butuh Perhatian Khusus?

Dengan beberapa obat, hanya sedikit kelebihan dapat mengakibatkan overdosis yang berbahaya, dan jika jumlah hanya sedikit kekurangan, obat mungkin tidak berhasil. Obat tersebut dikenal dengan ‘indeks terapeutik yang sempit’. Jika kita memakai obat jenis ini, interaksi apa pun dapat gawat atau bahkan mematikan.

Yang harus diperhatikan termasuk:

Beberapa obat yang dipakai untuk mengobati depresi
Beberapa antihistamin (antialergi)
Obat yang mengendalikan denyut jantung
Beberapa obat penawar rasa nyeri yang berasal dari opium
Kisaprid, yang meningkatkan pengeluaran air besar
Beberapa obat sedatif (penenang), termasuk triazolam
Obat pengencer darah
Metadon (lihat LI 670 dan buprenorfin (LI 671)
Beberapa obat untuk mengobati disfungsi ereksi (mis. Viagra)
Beberapa obat untuk mengobati TB, terutama rifampisin

Obat lain yang harus diperhatikan termasuk narkoba. Belum ada penelitian yang teliti terhadap interaksi dengan narkoba, tetapi ada laporan tentang overdosis dan kematian diakibatkan penggunaan narkoba sekaligus dengan ARV. Untuk informasi lebih lanjut, lihat LI 680.

Perempuan yang memakai pil KB sebaiknya bicara dengan dokter tentang interaksi obat. Beberapa ARV dapat menurunkan tingkat obat KB ini, dan menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan.

Bagaiamana dengan Jamu?

Belum ada banyak penelitian tentang interaksi antara jamu dan obat-obatan. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa St. John’s Wort (hiperisin) dikontraindikasi dengan semua PI dan NNRTI. Bawang putih dapat menurunkan tingkat ARV dalam aliran darah. Suplemen bawang putih, atau mungkin jumlah bawang putih yang besar dalam makanan, dapat mengakibatkan masalah untuk seseorang yang memakai saquinavir sebagai satu-satunya PI dalam rejimennya.

Garis Bawah

Banyak ARV dapat berinteraksi dengan obat lain, narkoba, atau jamu, dan daftar interaksi semakin panjang – lihat LI 910 dan LI 911. Interaksi itu dapat mengakibatkan overdosis beberapa obat dan kelebihan dosis ini dapat gawat atau mematikan. Interaksi juga dapat mengakibatkan tingkat obat yang terlalu rendah dalam aliran darah. Kita dan dokter sebaiknya meninjau lembaran informasi yang ada di dalam kemasan semua obat. Minta informasi tersebut untuk setiap obat yang dipakai. Juga, menentukan bahwa dokter meninjau SEMUA obat, narkoba dan jamu yang kita pakai.


Sumber :
http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=407

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar